Kartini (35), salah satu peserta aksi literasi kesehatan yang diselenggarakan SD Negeri Pasirjeunjing, bersama kedua putranya; Malihatul Umah (13 bulan) dan Abdul M Pauji (8), tengah membaca buku.(Asop Ahmad/Siap Belajar)
TASIKMALAYA, SB - Munculnya gerakan membaca merupakan hal positif bagi perkembangan pengetahuan masyarakat. Membaca salah satu cara untuk memperoleh ilmu yang menjadi dasar untuk mencapai kemuliaan. Demikian disampaikan Nana Rukmana M.Pd, kepala SD Negeri Pasirjeunjing, Cigalontang.
Ia menuturkan, jika mencermati perkembangan kehidupan masyarakat Indonesia saat ini, maka akan menemukan realitas yang miris. Proses transfer ilmu dan informasi hari ini lebih banyak dilakukan dari mulut ke mulut atau melalui internet ketimbang melalui kegiatan membaca.
United Nations Development Programme (UNDP) pernah menyebutkan dalam hal minat baca, Indonesia menempati peringkat 96, sejajar dengan Bahrain, Malta, dan Suriname. Bahkan, untuk kawasan Asia Tenggara, hanya ada dua negara di bawah peringkat Indonesia, yakni Kamboja dan Laos
Fakta di atas menandakan bangsa ini telah mengalami kepikunan sejarah. Sebab, dalam sejarahnya, kegiatan membaca bukanlah hal asing bagi kita. Sebagai contoh, para pendiri bangsa kita adalah orang-orang yang kutu buku, sebut saja Soekarno, Mohammad Hatta, Sahrir, Tan Malaka, Hasyim Asy’ari, dan lain-lain.
Menurut Suherman, dalam bukunya “Bacalah! Menghidupkan Kembali Semangat Membaca Para Mahaguru Peradaban” (2010), ada dua faktor yang menyebabkan minat baca rendah di Indonesia. Pertama, faktor determinisme genetik, yakni warisan orangtua. Seseorang tidak suka membaca karena memang sejak kecil dibesarkan oleh orang tua yang tidak pernah mendekatkan dirinya pada bacaan.
Kedua, orang tidak senang membaca karena lingkungan, teman-teman, rekan kerja, guru, atau dosen tidak senang membaca. Di samping itu juga di rumah, di kantor, di sekolah tidak disediakan perpustakaan, serta tidak ada peraturan perusahaan/instansi yang mengharuskan seseorang untuk membaca.
Dengan kata lain, kata Nana, membaca belum dijadikan denyut nadi dalam kehidupan berbangsa. Orangtua masih malas memberikan keteladan membaca bagi anak-anaknya. Adanya gerakan-gerakan membaca yang dilakukan pemerintah saat ini menjadi momentum kebangkitan bangsa ini. (Asop Ahmad/Siap Belajar)
from Siap Belajar http://ift.tt/2kNc09G
via IFTTT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar