Kamis, 06 April 2017

Kurang Praktik, Lulusan SMK Masih Sulit Raih Peluang Kerja

Ilustrasi (Pendidikan Vokasi)

Ilustrasi (Pendidikan Vokasi)

SISTEM pendidikan sekolah kejuruan di Indonesia saat ini masih mengedepankan teori. Sementara, praktik kerja masih kurang diberikan kepada anak didik, sehingga mereka kesulitan mendapatkan pekerjaan setelah lulus nanti.

Demikian dikatakan Assisten Deputi Ketenagakerjaan Menteri Koordinator Perekonomian, Yulius, saat bertemu dengan Dewan Vokasi Pemagangan Karawang, Jimmy Ahmda Zamakhsyari, di Karawang, Kamis 6 April 2017.

“Memang, sistem pendidikan kejuran di Indonesia belum mendukung kebutuhan perusahaan untuk mendapatkan tenaga kerja yang handal,” kata Yulius.

Menurutnya, hal itu terjadi karena anak didik banyak dijejali pelajaran teori saat sekolah. Bahkan, pelajaran teori tersebut prosentasinya bisa lebih dari 60%, ketimbang praktek kerja.

Akibatnya, lanjut Yulius, kemampuan lulusan sekolah kejuruan belum sesuai standar yang dibutuhkan perusahaan. “Presiden berharap sistem pendidikan sekolah kejuruan diubah. Dengan demikian, lulusan sekolah itu bisa mendukung kebutuhan tenaga kerja yang handal,” katanya.

Disebutkan, berdasarkan hasil evaluasi kurikulum yang dimiliki sekolah kejuruan belum sejalan dengan dengan kebutuhan dunia industri. Lulusan sekolah kejuruan tidak siap bekerja di perusahaan, terutama perusahaan industri yang membutuhkan tenaga terampil.

Dikatakan, dari jumlah guru sekolah kejuruan yang mencapai 302 ribu orang baru 22% yang dinyatakan produktif dalam memberikan pelajaran kepada siswanya. “Kendalanya memenga pelajaran praktek membutuhkan peralatan, sehingga pihak sekolah lebih banyak memberi pelajaran teori karena alat praktek memang mahal,” katanya.

Yulius mengatakan juga, salah satu solusi untuk mengatasi kesenjangan antara kebutuhan perusahaan dengan kualitas tenaga kerja adalah dengan membentuk dewan vokasi di setiap daerah. Tugas dewan vokasi adalah mendidik lulusan sekolah kejuruan, baik melalui balai latihan kerja atau langsung pemagangan di perusahaan.

“Karawang sudah memiliki dewan kokasi. Oleh karena itu kami datang menemui pengurus Dewan Vokasi Karawang untuk menanyakan langsung kegiatan pemagangan. Apalagi Presiden titip pertanyaan soal pemagangan di Karawang. Sebeb, beliau yang membuka lounching pemagangan di Karawang,” katanya.

Sementara itu Ketua Dewan Vokasi Karawang, Jimmy Ahmad Zamakhsyari mengatakan kunjungan pejabat Menko Perekonomian ke Karawang terkait soal program pemagangan yang sedang dilaksanakan di Karawang. Dewan Vokasi Karawang akan melepas 500 orang untuk bekerja magang pada tahap pertama 8 April nanti.

“Secara bertahap kami akan melepas calon tenaga magang untuk bekerja magang di sejumlah perusahaan. Totalnya tenaga kerja magang yang akan dilepas mencapai 5000 orang. Bulan ini, baru 500 orang yang akan dilepas pada sejumlah perusahaan di Karawang,” kata Jimmy.(pikiran-rakyat.com)



from Siap Belajar http://ift.tt/2o8J7ql
via IFTTT

Tidak ada komentar:

Ilustrasi (Pendidikan Vokasi)

Ilustrasi (Pendidikan Vokasi)

SISTEM pendidikan sekolah kejuruan di Indonesia saat ini masih mengedepankan teori. Sementara, praktik kerja masih kurang diberikan kepada anak didik, sehingga mereka kesulitan mendapatkan pekerjaan setelah lulus nanti.

Demikian dikatakan Assisten Deputi Ketenagakerjaan Menteri Koordinator Perekonomian, Yulius, saat bertemu dengan Dewan Vokasi Pemagangan Karawang, Jimmy Ahmda Zamakhsyari, di Karawang, Kamis 6 April 2017.

“Memang, sistem pendidikan kejuran di Indonesia belum mendukung kebutuhan perusahaan untuk mendapatkan tenaga kerja yang handal,” kata Yulius.

Menurutnya, hal itu terjadi karena anak didik banyak dijejali pelajaran teori saat sekolah. Bahkan, pelajaran teori tersebut prosentasinya bisa lebih dari 60%, ketimbang praktek kerja.

Akibatnya, lanjut Yulius, kemampuan lulusan sekolah kejuruan belum sesuai standar yang dibutuhkan perusahaan. “Presiden berharap sistem pendidikan sekolah kejuruan diubah. Dengan demikian, lulusan sekolah itu bisa mendukung kebutuhan tenaga kerja yang handal,” katanya.

Disebutkan, berdasarkan hasil evaluasi kurikulum yang dimiliki sekolah kejuruan belum sejalan dengan dengan kebutuhan dunia industri. Lulusan sekolah kejuruan tidak siap bekerja di perusahaan, terutama perusahaan industri yang membutuhkan tenaga terampil.

Dikatakan, dari jumlah guru sekolah kejuruan yang mencapai 302 ribu orang baru 22% yang dinyatakan produktif dalam memberikan pelajaran kepada siswanya. “Kendalanya memenga pelajaran praktek membutuhkan peralatan, sehingga pihak sekolah lebih banyak memberi pelajaran teori karena alat praktek memang mahal,” katanya.

Yulius mengatakan juga, salah satu solusi untuk mengatasi kesenjangan antara kebutuhan perusahaan dengan kualitas tenaga kerja adalah dengan membentuk dewan vokasi di setiap daerah. Tugas dewan vokasi adalah mendidik lulusan sekolah kejuruan, baik melalui balai latihan kerja atau langsung pemagangan di perusahaan.

“Karawang sudah memiliki dewan kokasi. Oleh karena itu kami datang menemui pengurus Dewan Vokasi Karawang untuk menanyakan langsung kegiatan pemagangan. Apalagi Presiden titip pertanyaan soal pemagangan di Karawang. Sebeb, beliau yang membuka lounching pemagangan di Karawang,” katanya.

Sementara itu Ketua Dewan Vokasi Karawang, Jimmy Ahmad Zamakhsyari mengatakan kunjungan pejabat Menko Perekonomian ke Karawang terkait soal program pemagangan yang sedang dilaksanakan di Karawang. Dewan Vokasi Karawang akan melepas 500 orang untuk bekerja magang pada tahap pertama 8 April nanti.

“Secara bertahap kami akan melepas calon tenaga magang untuk bekerja magang di sejumlah perusahaan. Totalnya tenaga kerja magang yang akan dilepas mencapai 5000 orang. Bulan ini, baru 500 orang yang akan dilepas pada sejumlah perusahaan di Karawang,” kata Jimmy.(pikiran-rakyat.com)



from Siap Belajar http://ift.tt/2o8J7ql
via IFTTT